Wednesday, 7 August 2019

Strategi dalam Memasuki dunia usaha


■ Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memulai atau memasuki dunia usaha yaitu :
  1. Merintis usaha baru : yaitu membentuk dan mendirikan usaha baru yaitu membentuk dan mendirikan usaha baru dengan menggunakan modal, ide,organisasi dan manajemen yang dirancang sendiri.
  2. Membeli perusahaan orang lain (buying) yaitu dengan membeli perusahaan yang telah didirikan atau dirintis atau diorganisir oleh orang lain dengan nama (goodwill) dan organisasi usaha yang sudah ada.
  3. Kerjasama Manajemen (Frachising) : kerjasama antara franchisee dengan franchisor /parent company. Kerjasama ini biasanya: pemilihan tempat, rencana bangunan, peralatan, pengendalian kualitas, riset.

Menurut hasil survey yang dilakukan oleh Peggy Lambing(2000; 90): Sekitar 43% responden mendapatkan ide bisnis dari pengalaman yang diperoleh ketika bekerja di beberapa perusahaan atau tempat-tempat profesional lainnya.
Ada 2 pendekatan utama yang digunakan wirausaha untuk mencari peluang :
  • Pertama, Inside out (idea generation) adalah pendekatan berdasarkan gagasan sebagai kunci yang menentukan keberhasilan usaha.
  • Kedua, pendekatan outside in, atau opportunity recognition, yaitu pendekatan yang menekankan pada basis ide bahwa kebutuhan akan berhasil apabila menanggapi atau menciptakan kebutuhan di pasar

Opportinity recognition tak lain adalah pengamatan lingkungan, yaitu alat pengembangan yang akan ditransfer menjadi peluang-peluang ekonomi.Berita peluang tersebutb bersumber dari :
  1. Surat kabar
  2. Laporan periodik tentang perubahan ekonomi
  3. Jurnal Perdagangan dan pameran dagang
  4. Publikasi Pemerintah
  5. Informasi lisensi produk yang disediakan oleh pialang saham, universitas dan perusahaan lainnya.


Dalam merintis usaha baru terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan:
  1. Bidang dan jenis usaha yang dimasuki
  2. Bentuk usaha dan kepemilikan yang akan dipilih
  3. Organisasi usaha yang akan digunakan
  4. Jaminan usaha yang mungkin diperoleh
  5. Lingkungan usaha yang akan berpengaruh

Bidang dan jenis usaha yang dimasuki :
  1. Pertanian: usaha pertanian, kehutanan, perikanan dan perkebunan.
  2. Pertambangan: meliputi usaha galian pasir, galian tanah batu dan bata.
  3. Pabrikasi: usaha industri, perakitan dan sintesis
  4. Konstruksi: usaha konstruksi bangunan, jembatan, pengairan dan jalan raya.
  5. Jasa keuangan: usaha perbankan, asuransi dan koperasi
  6. Jasa perorangan: usaha potong rambut, salon, laundry, katering.
  7. Jasa umum: usaha pengangkutan, pergudangan, wartel dan distribusi.
  8. Jasa wisata: meliputi berbagai kelompok

Berdasarkan UU No 9/ 1990 tentang Kepariwisataan terdapat 86 jenis usaha yang bisa dirintis yang terbagi ke dalam 3 kelompok :

A. Kelompok usaha jasa pariwisata meliputi :
  • Jasa biro perjalanan wisata
  • Jasa agen perjalanan wisata
  • Jasa Pramuwisata
  • Jasa konvensi perjalanan intensif dan pameran
  • Jasa Konsultan Pariwisata
  • Jasa Informasi Pariwisata
B. Pengusahaan objek dan daya tarik wisata meliputi :
  • Pengusahaan objek dan daya tarik wisata alam
  • Pengusahaan objek dan daya tarik wisata budaya
  • Pengusahaan objek dan daya tarik wisata minat khusus
  • Usaha sarana wisata meliputi :
  • Penyediaan akomodasi
  • Penyediaan makanan dan minuman
  • Penyediaan angkutan wisata
  • Penyediaan sarana wisata
  • Tempat usaha yang akan dipilih
Dalam menentukan tempat usaha harus dipertimbangkan beberapa hal di bawah ini:
  1. Apakah tempat usaha tsb mudah dijangkau oleh konsumen, pelanggan atau pasar ? 
  2. Bagaimana akses pasarnya ?
  3. Apakah tempat usaha dekat ke sumber tenaga kerja ?
  4. Apakah dekat ke akses bahan baku dan bahan penolong lainnya seperti alat pengangkut dan jalan raya ?



PERKEMBANGAN TEHNOPRENEURSHIP DI INDONESIA


a. Technopreneurship
Ditilik dari asal katanya, Technopreneurship merupakan istilah bentukan dari dua kata, yakni teknologi’ dan ‘enterpreneurship’. Secara umum, kata Teknologi digunakan untuk merujuk pada penerapan praktis ilmu pengetahuan ke dunia industri atau sebagai kerangka pengetahuan yang digunakan untuk menciptakan lat-alat, untuk mengembangkan keahlian dan mengekstraksi materi guna memecahkan persoalan yang ada. Sedangkan kata entrepreneurship berasal dari kata entrepreneur yang merujuk pada seseorang atau agen yang menciptakan bisnis/usaha dengan keberanian menanggung resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang ada (Zimmerer & Scarborough, 2008).
Jika kedua kata diatas digabungkan, maka kata teknologi disini mengalami penyempitan arti, karena Teknologi dalam “technopreneurship” mengacu pada Teknologi Informasi, yakni teknologi yang menggunakan Komputer sebagai alat pemrosesan. Posadas (2007) mendefinisikan istilah technopreneurship dalam cakupan yang lebih luas, yakni sebagai wirausaha di bidang teknologi yang mencakup teknologi semikonduktor sampai ke asesoris Komputer Pribadi (PC). Sebagai contoh adalah bagaimana Steven Wozniak dan Steve Job mengembangkan hobi mereka hingga mereka mampu merakit dan menjual 50 komputer Apple yang pertama, atau juga bagaimana Larry Page dan Sergey Brin mengembangkan karya mereka yang kemudian dikenal sebagai mesin pencari Google. Mereka inilah yang disebut sebagai para teknopreneur dalam definisi ini.
Dalam wacana nasional, istilah Technopreneurship lebih mengacu pada pemanfaatan Teknologi informasi untuk pengembangan wirausaha. Berbeda dengan pengertian pertama diatas, jenis wirausaha dalam pengertian technopreneurship disini tidak dibatasi pada wirausaha teknologi informasi, namun segala jenis usaha, seperti usaha meubel, restaurant, super market ataupun kerajinan tangan, batik dan perak. Penggunaan teknologi informasi yang dimaksudkan disini adalah pemakaian Internet untuk memasarkan produk mereka seperti dalam perdagangan online (e-Commerce), pemanfaatan Perangkat Lunak khusus untuk memotong biaya produksi, atau pemanfaatan teknologi web 2.0 sebagai sarana iklan untuk wirausaha. Dalam pengertian kedua ini, tidaklah jelas pihak mana yang bisa disebut sebagai technopreneur. Disini, kedua pengertian ini akan digunakan bersama-sama.
Perkembangan teknologi yang tiada hentinya semakin lama semakin maju , memacu persaingan yang sangat ketat diantara pengelola bisnis yang menerapklan Technopreneurship sebagai incubator bisnis berbasis teknologi mereka,dimana teknologi memiliki peranan sebagai penggerak bisnisnya.
Dengan adanya teknologi tersebut,maka pasti akan lahir orang-orang yang mempunyai skil dalam bidang tersebut yang akan mengoperasikan teknologi tersebut ,seperti anak-anak lulusan IT dari perguruan tinggi contohnya,mereka itulah para calon technopreneur yang akan mengembangkan ide-ide baru untuk teknologi pada perusahaan,seorang technopreneur rela tumbuh dari bawah,untuk menambah pengalaman dan pengetahuan mereka, seorang technopreneur harus mempunyai ide-ide yang kreatif untuk mengembangkan suatu penemuannya.
Maka dalam pembahasan karya tulis kali ini akan membahas tentang tecnopreneurship sebagai teknologi bisnis yang tidak lepas dari sosok technopreneur yang berhubungan didalam teknologi tersebut, Disinilah dimana teknologi sangat berpengaruh terhadap dunia bisnis yang ada pada saat ini.
Inovasi, kemampuan dalam teknologi dan kemampuan berwirausaha merupakan solusi untuk meningkatkan keadaan ekonomi Indonesia yang sedang bertumbuh. Inovasi adalah langkah-langkah yang sistematis untuk mengubah sesuatu (produk, ide, informasi, teknologi dan lainnya) menjadi sebuah sumber penemuan yang baru.
Beberapa tahun terakhir ini, istilah teknoprenuership kerap sekali kita jumpai dan dengan di berbagai media baik media cetak maupun media elektronik. Buku-buku yang menggunakan istilah ini sebagai bagian dari judulnyapun sudah banyak bermunculan. Bahkan, ada beberapa universitas yang mulai menawarkan technoprenuership sebagai program studi dan membuka program master. Salah satu universitas di Asia yang menawarkan Master Degree Program in Technopreneurship adalah Universitas Teknologi Nanyang (Nanyang Technological University – NTU) Singapura. NTU bahkan memiliki pusat studi khusus untuk bidang ini yang dikenal dengan nama Nanyang Technopreneurship Center (NTC).



Technopreneurship di Asia


Jika kita menengok ke 2 -3 dekade yang lalu, maka sebut saja Taiwan, Korea Selatan dan Singapura masih digolongkan sebagai Negara Berkembang. Namun sekarang Negara-negara ini telah menjadi Negara maju dengan perekonomian yang didasarkan pada Industri teknologi. Perkembangan Korea diawali dengan industri tradisional kemudian diikuti oleh industri semikonduktor. Sedangkan Singapura memiliki kontrak di bidang elektronik dengan perusahaan-perusahaan barat kemudian diikuti juga oleh manufaktur semikonduktor. Taiwan terkenal dengan industri asesoris Komputer Pribadi (PC). Rahasia lain yang membuat perkembangan negara-negara ini melejit adalah adanya inovasi.
Inovasi di bidang Teknologi Informasi inilah yang juga membuat India berkembang dan menjadi incaran industri dunia barat baik bagi outsourcing maupun penanaman modal. Contoh teknologi yang dikembangkan oleh India adalah sebuah Handheld PC yang disebut sebagai Simputer. Simputer dikembangkan untuk pengguna pemula dan dari sisi finansial adalah pengguna kelas menengah bawah. Simputer dijalankan oleh prosesor berbasis ARM yang murah dan menggunakan Sistem Operasi berbasis opensource. Harga di pasaran adalah sekitar $200.
Inovasi India yang luar biasa datang dari perusahaan Shyam Telelink Ltd. Shyam Telelink memperlengkapi becak dengan telefon CDMA yang berkekuatan 175 baterai. Becak inipun diperlengkapi juga dengan mesin pembayaran otomatis. Penumpang becak bisa menelpon dan tariff yang dikenakan adalah sekitar 1.2 rupee per 20 menit. Lalu perusahaan ini mempekerjakan orang yang tidak memiliki keahlian untuk mnegemudikan becak. Upah para pengemudi becak tidak didasarkan pada gaji yang tetap namun merupakan komisi sebesar 20% dari tiap tarif telfon yang diperoleh (Wireless week,2003).
Di Filipina, perusahaan telefon SMART mengembangkan metode untuk melayani transfer pengiriman uang dari para pekerja Filipina yang diluar negeri melalui telefon seluler dengan SMS. Menurut laporan Asian Development Bank (ADB), SMART dapat meraup sekitar US $14 –21 trilyun per tahunnya dari biaya transfer program ini.
China mengikuti jejak yang sama. Perusahaan-perusahaan China mulai menunjukkan kiprahnya di dunia internasional. Akuisisi IBM oleh perusahaan China Lenovo di tahun 2004 dan akuisisi perusahaan televisi Perancis Thomson oleh Guangdong membuktikan bahwa technoprenuership di China semakin kukuh.
Studi Posadas menunjukkan bahwa technopreneurship di Asia berkembang disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, faktor inovasi yang diinsiprasikan oleh Silicon Valley. Jika revolusi industri Amerika di abad 20 yang lalu dipicu oleh inovasi yang tiada henti dari Silicon valley, maka negara-negara Asia berlomba untuk membangun Silicon Valley mereka sendiri dengan karakteristik dan lokalitas yang mereka miliki.
Kedua, Inovasi yang dibuat tersebut diarahkan untuk melepaskan diri dari ketergantungan dunia barat. Sebagian besar teknologi yang diciptakan oleh dunia barat diperuntukkan bagi kalangan atas atau orang/instansi/perusahaan yang kaya dan menciptakan ketergantungan pemakaiannya. Sementara itu sebagian besar masyarakat (baca pasar) Asia belum mampu memenuhi kriteria pasar teknologi barat tersebut. Masih banyak masyarakat asia yang memiliki penghasilan dibawah $1 per hari, sehingga mereka tidak memiliki akses ke teknologi yang diciptakan oleh dunia barat. Ini merupakan peluang yang besar bagi para teknopreneur untuk berinovasi dalam menciptakan sebuah produk teknologi yang menjangkau masyarakat marginal.



Arah technopreneurship di Indonesia
Sebagian besar wacana di negara kita mengarahkan Technopreneurship seperti dalam definisi kedua di atas. Baik dalam seminar, lokakarya dan berita, maka bisa dijumpai bahwa pemakaian teknologi Informasi dapat menunjang usaha bisnis. Terlebih dimasa krisis global seperti sekarang ini, maka peluang berbisnis lewat Internet semakin digembar-gemborkan. Ada kepercayaan bahwa Technopreneurship menjadi solusi bisnis dimasa lesu seperti ini. Sebagai contoh, penggunaan Perangkat Lunak tertentu akan mengurangi biaya produksi bagi perusahaan Meubel. Jika sebelumnya, mereka harus membuat prototype dengan membuat kursi sebagai sample dan mengirimkan sample tersebut, maka dengan pemakaian Perangkat Lunak tertentu, maka perusahaan tersebut tidak perlu mengirimkan sample kursi ke pelanggan, namun hanya menunjukkan desain kursi dalam bentuk soft-copy saja. Asumsi ini tidak memperhitungkan harga lisensi software yang harus dibeli oleh perusahaan meubel tersebut.
Jika technopreneurship dipahami seperti dalam contoh-contoh ini, maka kondisi ini menyisakan beberapa pertanyaan: Apakah benar technopreneurship mampu menjadi solusi bisnis di masa kini? Akan dibawa kemanakah arah technoprenership di negara kita? Menurut hemat penulis, technopreneurship yang dipahamai dalam makna yang sesempit ini justru akan menjadi bumerang bagi pelaku bisnis, karena ini akan menciptakan ketergantungan terhadap teknologi buatan barat. Dan ini tidak sejalan dengan semangat technopreneurship yang dikembangkan oleh negara-negara Asia lainnya. Selain itu, inovasi yang berkembang belum mampu melepas ketergantungan tersebut karena masih berskala individu, seperti inovasi dan kreatifitas dalam pembangunan website, penggunaan teknologi web 2.0 sebagai media promosi. Inovasi yang diharapkan adalah inovasi dalam pengembangan kapasitas lokal dengan basis teknologi dari dunia barat, sehingga hasil inovasi tersebut mampu melepaskan kita dari kungkungan ketergantungan penggunaan lisensi dan ketergantungan teknologi barat.
Untuk dapat menuju ke arah yang sama seperti neagara-negara tetangga kita lainnya, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan dekonstruksi pemahaman Technopreneurship. Ini penting sekali karena kita semua tahu bahwa persepsi menentukan aksi. Dengan pemahaman technopreneurship seperti dalam definisi pertama maka akan memungkinkan bermunculannya para technopreneurship sejati yang akan membawa negara kita berjalan bersama-sama dengan India, Korea Selatan maupun taiwan.
Judul diatas saya peroleh ketika saya membaca sebuah majalah Business Opportunity yang sedang mewawancarai Ir. Ciputra (Pengusaha sekaligus pemrakarsa kampus-kampus entrepreneurship di Indonesia). Beliau menerangkan bahwa seorang entrepreneur itu dalam tingkatan tertinggi adalah ketika dia bisa mencipta peluang atau opportunity.
Ada tiga tahapan dalam pengertian opportunity yaitu:
1.opportunity recognition yaitu sebuah proses yang menyadari bahwa permintaan sudah sangat jelas demikian juga dengan suplai.
2.opportunity seeking yaitu suplai sudah jelas sementara permintaan belum jelas.
3.opportunity discovery yaitu ketika kondisi sebaliknya terjadi ketika permintaan begitu tinggi tetapi belu terlayani oleh suplai.
Maka deifinisi entrepeneruship mengacu pada opportunity creation yaitu ketika permintaan dan suplai belum jelas, artinya permintaan dan suplai yang belum jelas akan menimbulkan peluang-peluang yang bisa dijadikan usaha. Sehingga penciptaan peluang adalah merupakan ketrampilan tertinggi.
Jadi Technopreneurship adalah juga merupakan wirausaha yang memanfaatkan teknologi sebagai tools untuk melakukan atau menciptakan peluang, khususnya dalam penggunaan teknologi informasi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh sebuah kecanggihan teknologi yang berkembang begitu cepat, salah satu diantaranya penciptaan bisnis online. Bisnis online adalah sebuah penciptaan dimana peluang perkembangan IT benar-benar bisa dimanfaatkan. Pasar yang begitu besar dan tren dari penggunaan teknologi yang semakin meningkat di masyarakat adalah sebuah peluang yang harus dimanfaatkan. Di Indonesia penggunaan teknologi informasi saat ini merupakan salah satu penunjang sukses dari sebuah bisnis, artinya jika perusahaan-perusahaan itu memanfaatkan teknologi maka perusahaan itu akan tambah berkembang dan tumbuh. Bukan lagi khusus untuk pengembangan teknologi sebagai bisnisnya tapi lebih cenderung sebagai media untuk penunjang bisnis.Jika menilik dari pengertian technopreneurship, bahwa bisnis yang khusus membuat komputer misalnya dia akan mengembangkan untuk membuat aksesoris-aksesories yang lainnya, mulai pendingin komputer,mouse yang berwarna-warni , pembuatan tas-tas laptop yang full design, dan yang lain sebagainya. Ambil contoh lagi adalah Google, perusahaan yang dulunya hanya berkecimpung dibidang search engine atau mesin pencari utama di dunia maya belakang ini mulai pengembangan software android, kemudian mulai merambah sisi hardwarenya dengan berkolaborasi dengan perusahaan hardware ternama. Inilah sebenarnya peluang yang ada ditechnopreneurship yang memanfaat penelitian sebagai peluang yang sesungguhnya sehingga bisa dijadikan sebuah bisnis yang maju.

Pemanfaatan teknologi sebagai syarat utama disebut technopreneurship bisa kita lihat juga dalam bisnis perparkiran yang ada di mall ataupun diintansi pemerintah yang ramai dikunjungi oleh masyarakat misalnya rumah sakit. Bagaimana dia full menawarkan teknologi sebagai solusi untuk mengatasi manajemen perparkiran kendaraan bermotor, memanfaat sistem informasi parkir, kemudian memanfaat cctv dan lain sebagainya sehingga jasa layanan parkir menjadi lebih tertata, aman dan nyaman. Sehingga manajemen parkir akhirnya bisa difranchise kan. Kemudian technopreneurship dibidang perbankan adalah penggunaan teknologi yang ada di ATM-ATM bank, bagaimana ia membuat sistem informasi yang benar-benar aman kemudian dia pasangkan di mesin ATM, kemudian ditawarkan lagi sistem yang sudah jadi tersebut ke bank-bank yang lainnya akhirnya ada yang disebut jaringan ATM LINK dan jaringan ATM PLUS. Dan hal ini menjadi sebuah tren bisnis technopreneurship di bidang perbankan. Dan ada banyak lagi contoh technopreneurship yang berkembang di berbagai bidang.

Bagaimana technopreneurship itu bisa diterapkan sebagai sebuah bisnis?

Einstain mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan itu sendiri karena pengetahuan meliputi yang kita tahu sementara imajinasi termasuk kita tahu maupun yang tidak kita tahu. Sehingga kunci kreativitas adalah kunci untuk mendorong inovasi seseorang sehingga melatih kreativitas sebagai sebuah isu utama. Belajarlah kreativitas, belajarlah berinovasi dari yang ter kecil sampai yang besar.

Pengaruh dan peranan TI terhadap perkembangan bisnis online di Indonesia sangat besar. Contohnya dengan adanya pembuatan website, forum, dan blog inilah sebagai media yang bersifat sebagai jembatan antara penjual dan pembeli untuk saling memberi informasi sekaligus bertransaksi semakin hari semakin banyak saja, hal ini menunjukkan perkembangan situs-situs yang memiliki wadah untuk bisnis online semakin berkembang tiap waktu. Ditambah dengan berkembangnya dalam persaingan internet service provider yang memberikan fasilitas koneksi internet kepada penjual dan pembeli dalam bisnis online, supaya dapat terhubung secara online setiap saat dan dimanapun berada, sehingga calon konsumen dapat dengan mudah mengakses situs-situs yang menawarkan produk dan jasa yang ingin mereka dapatkan. Apalagi pengguna perangkat mobile di Indonesia juga semakin berkembang, hampir tiap tipe handphone yang dimiliki oleh masyarakat pada masa kini memiliki fasilitas atau fitur untuk dapat koneksi ke internet, hal ini semakin memudahkan masyarakat supaya mendapatkan informasi-informasi terkini dalam bidang bisnis online.
Memang yang namanya bisnis online tidak dapat terlepas dari peranan dunia TI, karena diawali dari perkembangan teknologi informasi terutama yang namanya internet inilah sehingga berlanjut dan berkembangnya terhadap bisnis online khususnya di Indonesia. Bahkan beberapa pengguna bisnis online di Indonesia menggunakan perangkat lunak untuk chatting seperti yahoo messenger untuk bertransaksi, tentunya perbincangan bisnis di yahoo messenger tersebut berawal dari suatu blog atau forum yang menawarkan barang dan jasa, lalu di forum atau blog tersebut memasang banner berupa logo YM agar ketika suatu saat ada calon konsumen yang tertarik dapat memastikan lebih jauh dan keseriusan dalam bertransaksi kepada sang penjual selain penggunaan handphone untuk sms atau telepon.
Tidak menutup kemungkinan juga bagi pebisnis online yang sudah masuk dalam skala bisnis yang besar memanfaatkan video conference sebagai sarana untuk berkomunikasi dan mempresentasikan produk atau jasa yang ditawarkan kepada klien. Hal seperti ini biasa terjadi untuk meminimalis kemungkinan pengeluaran biaya transportasi dan waktu yang terbuang dalam perjalanan.


Sumber:
Dana, L.P. (2007). Asian Models of Entrepreneurship from Indian Union and the Kingdom of Nepal to the Japanese Archipelago: Context, Policy, and Practice. New Jersey: World Scientific Publishing Co

Sunday, 21 July 2019

Prosedur Pengujian Kesesuaian Fungsi Produk Barang/Jasa I Materi 4 (Produk Kreatif dan Kewirausahaan kelas 12)


 Prosedur Pengujian Kesesuaian Fungsi Produk Barang/Jasa
Memahami definisi manajemen operasi memungkinkan untuk mengetahui secara umum apa yang beroperasi dalam suatu organisasi. Ada beberapa fungsi dari manajemen operasi (Heizer dan Render, 2011:38) dibagi menjadi empat fungsi, yaitu:

  •     Manajemen operasi adalah tiga fungsi utama dari setiap organisasi, dan secara integral terkait dengan semua fungsi bisnis lainnya. Bagaimana orang mengorganisir diri untuk usaha produktif.
  •        Untuk mengetahui bagaimana barang dan jasa yang dihasilkan.
  •        Untuk memahami apa yang manajer operasi dilakukan.
  •      Operasi manajemen adalah suatu bagian mahal dari sebuah organisasi. Hal ini juga memberikan  kesempatan besar bagi sebuah organisasi untuk mengingatkan profitabilitas dan meningkatkan layanan kepada masyarakat.
Jadi, operasi telah didefinisikan sebagai sistem transformasi atau proses yang mengubah input menjadi output. Ketika proses transformasi yang terjadi, ada nilai yang dimassukkan. Nilai mengambil bentuk sebagai output barang atau jasa. Manajemen operassi ini juga sangat membantu bagi para manajer untuk memahami pentingnya kegiatan operasi yang efektif dari suatu organisasi.
Manajemen Kualitas
Dalam kehidupan pasar, kualitas dapat ditentukan oleh pelanggan karena produk yang ada diciptakan untuk pelanggan. Untuk meraih kkualitas tersebut perlu diterapkan suatu manajemen kualitas. Menurut ISO 8402 (Quality Vocabulary) Mendefinisikan manajemen kualitas sebagai semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang mmenentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan dan tanggung jawab serta mengimplementasikannya melalui alat-alat sebagai berikut;
1.      Perencanaan kualitas (Quality Planning). Perencanaan adalah penetapan dan pengembangan tujuan dan kebutuhan untuk kualitas serta penerapan sistem kualitas.
2.      Pengendalian kualitas(Quality Control). Pengendalian kkualitas adalah teknik dan aktivitas operasional yang digunakan untuk memenuhi persyaratan kualitas.
3.      Jaminan kualitas (Quality Assurance). Jaminan kualitas adalah semua tindakan terencana dan sistematis yang diimplementasikan dan didemonstrasikan untuk memberikan kepercayaan yang cukup bahwa produk akan memuaskan kebutuhan untuk kualitas tertentu.
4.      Peningkatan kualitas (Quality Improvement). Peningkatan kualitas adalah tindakan-tindakan yang diambil untuk meningkatkan nilai produk pelanggan melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi dari proses dan aktivitas melalui struktur organisasi.
Jadi sistem manajemen kualitass ini berfokus pada konsistensi dari setiap proses kerja yang ada untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Dalam menciptakan sebuah sistem manajemen yang berkualitas dibutuhkan sebuah tahapan-tahapan proses yang harus dilakukan, hal tersebut dikenal sebagai PDCA (Plan-Do-Check-Act). Gaspersz (2012:35) PDCA dapat dijabarkan sebagai berikut;
1.      Rencanakan (Plan). Merupakan sebuah proses untuk merencanakan suatu sistem manajemen kualitas. Dalam melakukan sebuah perencanaan, harus mengandung konsep SMART (Specific, Measurable, Achievable, Result-Oriented, Timely) yang artinya ketika menetapkan tujuan-tujuan kualitas harus ditetapkan secara spesifik dan bukan bersifat umum, dapat diukur, dapat dicapai, berorientasi pada pencapaian hasil dan memiliki tolok ukur waktu untuk mencapai tujuan tersebut.
2.      Laksanakan (Do). Setelah menentukan perencanaan dari sebuah sistem, langkah berikutnya adalah menerapkan dan mengoperasikan sistem menejemen kualitass tersebut dengan mengelola lingkungan kerja yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian terhadap persyaratan produk, menciptakan struktur manajemen, menerapkan tanggung jawab dengan kewenangan yang memadai yang artinya bahwa manajemen puncak harus menjamin bahwa tanggung jawab dan wewenang didefinisikan dan dikomunikasikan dalam organisasi
3.      Periksa (Check). Berikutnya adalah melakukan pemeriksaan pada proses sistem manajemen kualitas dengan melakukan pemantauan dan pengukuran. Pengukuran yang dilakukan seperti terhadap kepuasan pelanggan dengan melakukan survei atas kepuasan pelanggan, opini, persepsi pelanggan dan sebagainya yang mencakup segala masukan terhadap kualitas menurut pandangan konsumen. Hal yang diperiksa tidak hanya sebatas terhadap kualitas yang ada, tetapi juga keada identifikasi penyebab ketidaksesuaian terhadap perencanaan yang direncanakan untuk mengambil tindakan koperatif
4.      Bertindak (Act). Yang terakhir adalah melakukan tindakan perbaikan atas segala ketidak sesuaian yang ada dan melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki atau meningkatkan sistem menejemen kualitas secara terus menerus untuk mencegah pengulangan kembali tindakan ketidaksesuaian tersebut. Tindakan perbaikan tersebut seperti melakukan peninjauan ulang terhadap sistem manajemen kualitas.

2. Pelaksanaan
Menguji rencana
 

1.    Perencanaan
Mengidentifikasi masalah dan membuat rencana
 

3. Pengecekan
Apakah rencananya berjalan?
 

4. Tindakan
Mengimplementasikan rencana, dokumen
 
 











Gambar 1. Alur Plan-Do-Check-Act
Sumber: (Heizer dan Render, 2015: 248)

Kualitass adalah istilah yang berarti hal-hal yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda. Kualitas sebagai keseluruhan fitur dan karakteristik sebuah barang atau jasa yang menggunakan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang tertulis atau tersirat. Mmendefinisikan ekspektasi kualitass adalah penting untuk operasional yang efektif dan efisien. Kualitass memerlukan pembangunan lingkungan manajemen kualitass total (TQM) karena kualitas tidak dapat diinspeksi ke dalam sebuah produk. Secara umum kualitass didefinisikan terhadap lima pendekatan utama yakni (Gesperz, 2012: 1-2);
1.      Transcendent quality adalah suatu kondisi ideal menuju keunggulan
2.      Product-based quality adalah suatu atribut produk yang memenuhi kualitas
3.      User-based quality adalah kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk (barang atau jasa)
4.       Manufacturing-based qualiity adalah kesesuaian terhadap persyaratan standar
5.      Value-based quality adalah derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif.

Kualitas tersebut sudah mewakili lima sudut pandang atau pendekatan kualitass yakni,
1.       Kualitas sudut pandang keadaan yang sukar untuk diukur atau bersifat abstrak dimana suatu kualitas diukur berdassarkan kondisi yang sedang berlangsung dan terdapat standar-standar untuk pencapaian kualitas
2.      Kualitas diukur menurut atribut-atribut dari produk itu sendiri seperti bentuk kemasan dan sebagainya. Hal tersebut menjadi tolok ukur suatu barang berkualitas atau tidak
3.      Bagaimana suatu barang digunakan atau kesesuaian penggunaan barang terkait dengan penggunanya
4.      Kesesuaian proses produksi terhadap prosedur atau ketentuan-ketentuan dalam proses produksi
5.      Kesesuaian harga dengan nilai suatu barang atau jasa yang diberikan.

Stevenson dan chuong (2014:10) mengatakan, “Kualitas produk sering dinilai dalam enam dimensi kualitas, sebagai berikut” :
1.      Fitur khusus: karakteristik tambahan
2.      Kesesuaian: seberapa baik suatu produk atau jasa sesuai dengan spesifikasi
3.      Keandalan: konsistensi kinerja
4.      Ketahanan: masa manfaat dari produk atau jasa
5.      Persepsi kualitas: evaluasi langsung kualitas(misalnya reputasi)
6.      Kemampuan pelayanan: penanganan keluhan atau perbaikan

Biaya Kualitas

Prevention Cost
            Biaya ini muncul untuk mencegah terjadinya kualitas buruk dalam proses produk atau jasa yang dihassilkan. Ketika biaya pencegahan meningkat, maka diharapkan biaya kegagalan akan menurun. (biaya untuk menjaga failure & appraisal cost minimum). Contoh: perencanaan kualitas, review produk baru, pengendalian proses untuk menentukan status proses, audit kualitas, evaluasi kualitas supplier, training.

Appraisal Cost
            Biaya ini muncul untuk menentukan apakah produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau spesifikasi mereka. Tujuan utama dari fungsi penilaian adalah menghindari dikirimnya barang-barang yang tidak sesuai dengan kualitas kepada para pelanggan. Contoh : inspeksi dan uji material, inspeksi & uji akhir, audit kualitas produk, menjaga akurasi peralatan inspeksi evaluasi inventori (cek degradasi).

Internal Failure Cost
            Biaya ini timbul karena produk dan jasa tidak sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan pelanggan. Ketidaksesuaian ini di deteksi sebelum produk dan jasa dikirimkan ke pihak luar. Biaya-biaya ini tidak akan ada jika tidak ada barang cacat. Contoh: sekrap, kerja ulang, analisis kegagalan, sekrap & kerja ulang supplie, 100% sorting inspection, kesalahan proses yang dapat dihindarkan inspeki & uji ulang dan downgrading.

External Failure Cost
            Biaya ini timbul karena produk dan jasa gagal memenuhi persyaratan atau memenuhi kebutuhan pelanggan setelah dikirim ke pelanggan. Dari semua biaya, kategori ini merupakan biaya yang paling menghancurkan perusahaan. Seperti halnya biaya gagal internal, biaya ini tidak akan timbul jika tidak ada barang cacat. Contoh : biaya warranty, penyesuaian terhadap complain, material yang dikembalikan dan allowances.
Pengendalian merupakan suatu proses dalam mengarahkan sekumppulan variabel untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Dasar dari semua proses pengendalian adalah pemikiran untuk mengarahkan suatu variabel atau sekumpulan variabel guna mencapai tujuan tertentu. Variabel tersebut berupa manusia, mesin dan organisasi. Evans dan Lindsay (2007:236) pengendalian diperlukan karena adanya 2 alasan, yaitu:
1.      Pengendalian merupakan dassar bagi manajemen kerja harian yang efektif bagi semua tingkatan
2.      Perbaikan angka panjang tidak dapat diterapkan pada suatu proses kecuali proses tersebut terkendali dengan baik.
Suatu sistem pengendalian mempunyai 3 komponen (Evans dan Lindsay, 2007:236), yaitu;
1.      Standar atau tujuan
2.      Cara mengukur keberhasilan
3.      Perbandingan antara hasil sebenarnya dengan standar serta umpan balik guna membentuk dasar untuk tindakan korektif.
Terdapat 4 langkah untuk melakukan pengendalian, yaitu;
1.      Menentukan standar (setting standard)
2.      Menentukan standar mutu biaya (cost quality)
3.      Standar mutu kerja (performance quality), standar mutu keamanan (safety quality), standar mutu keandalan (realibility quality)yang diperlukan untuk suatu produk
4.      Menilai kesesuaian (appraising conformance).
Membandingkan kesesuaian dari produk yang dibuat dengan standar yang telah ditetapkan. Bertindak bila perlu (acting when necessary). Mengoreksi masalah dan penyebabnya melalui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan. Merencanakan perbaikan (planning for improvement). Merencanakan suatu upaya yang berlanjut untuk memperbaiki standar biaya, kinerja, keamanan dan keandalan.

Pengendalian Kualitas
Rusdiana (2014:221), pengendalian kualitas adalah teknik dan aktivitas operasional yang digunakan untuk memenuhi persyaratan kualitas. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian kualitas adalah suatu teknik dan aktivitas atau tindakan terencana yang dilakukan untuk mencapai, mempertahankan dan mengaitkan kualitas suatu produk dan jasa agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan dapat memenuhi kepuasan konsumen.
Perusahaan menghasilkan output untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen akan kepuasan, sehingga output yang dihasilkan seharusnya dapat memuaskan konsumen. Oleh karena itu produk bisa diartikan sebagai kepuasan yang ditawarkan produsen (perusahaan) kepada konsumen.
Untuk dapat mencapai maksud tersebut maka sudah selayaknya perusahaan memfokuskan diri pada pengembangan keunggulan bersaing melalui strategi bisnis, diantaranya pembedaan (differensiasi), biaya rendah (kepemimpinan biaya), respon cepat (rapaid response) atau kombinasi diantara kerja strategi tersebut. Suatu produk yang diciptakan baik berupa barang atau jasa pada umumnya mengalami tahapan kehidupan produk (PLC =  Produk Life Cycle).