Thursday, 29 November 2012
pasar komando dan ekonomis campuran
PASAR KOMANDO DAN EKONOMIS CAMPURAN
Masyarakat melalui sistem ekonomi alternatif, mempelajari mekanisme masyarakat untuk mengalokasikan sumber daya yang langka. Dua cara secara fundamental yaitu satu ekstrim, pemerintah membuat keputusan yang paling ekonomis dengan memberikan perintah kepada orang-orang lanjut ekonomi menuruni tangga. Ekstrim kedua yaitu keputusan dibuat dipasar, dimana individu atau sukarela setuju untuk pertukaran barang dan jasa. Biasanya melalui 2 bentuk organisasi ekonomi.
Sebuah ekonomi pasar adalah individu dan perusahaan swasta membuat keputusan besar tentang produksi dan konsumsi. Perusahaan menghasilkan komoditas yang menghasilkan keuntungan tertinggi. Apa teknik-teknik produksi yang paling mahal (bagaimana). Konsumsi ditentukan oleh individu tentang menghabiskan upah dan pendapatan property yang dihasilkan. Kepemilikan property (untuk siapa). Kasus ekstrim dari ekonomi pasar, pemerintah terus tangani dari keputusan ekonomi yang disebut ekonomi laissez-faire.
Ekonomi komando adalah satu dimana pemerintah membuat semua keputusan penting tentang produksi dan distribusi. Pemerintah memiliki sebagian besar alat-alat produksi (tanah dan modal), juga memiliki dan mengarahkan perusahaan.
Ekonomi perintah, pemerintah menjawab pertanyaan ekonomi utama melalui kepemilikan sumber daya dan kekuatan untuk menegakkan keputusan. Ekonomi dicampur dengan unsur-unsur pasar dan perintah. Tidak pernah ekonomi 100% pasar.
Masalah organisasi ekonomi
B. TIGA MASALAH ORGANISASI EKONOMI
Setiap negara harus menghadapi suatu penyelesaian 3 masalah ekonomi yang mendasar yaitu :
o Apa komoditi yang di produksi dan dalam jumlah berapa ?
Menentukan berapa banyak barang dan jasa yang akan dibuat. Kita akan memproduksi lebih sedikit barang-barang konsumsi atau barang-barang investas yang lebih yang akan meningkatkan produksi dan konsumsi.
o Bagaimana barang yang dihasilkan ?
Menentukan siapa yang akan melakukan produksi, dengan apa sumber daya , apa teknik produksi yang akan digunakan.
o Untuk siapa barang di produksi ?
Bagaimana produk nasional dibagi diantara rumah tangga yang berbeda? Untuk orang miskin dan kaya, untuk yang pendapatan tinggi.
Positif ekonomi menggambarkan fakta ekonomi, sementara ekonomi normatif melibatkan pertimbangan nilai. Ilmu ekonomi normative melibatkan ajaran etika dan norma-norma keadilan.
cara membaca grafik / kurva ekonomi
CARA MEMBACA GRAFIK
Menguasai ekonomi harus memiliki pengetahuan kerja grafik dengan penggunaan diagram. Grafik adalah diagram yang menunjukkan dua set lebih atau data atau variabel yang terkait satu sama lain. Grafik sangat penting di bidang ekonomi karena memungkinkan kita untuk menganalisis konsep-konsep ekonomi. Beberapa grafik dalam ringkasan ini menunjukkan variabel berubah dari waktu ke waktu dan akan membantu memahami hukum ekonomi yang penting.
KEMUNGKINAN PRODUKSI
Grafik pertama adalah frontier produksi-kemungkinan. Produksi kemungkinan frontier atau PPF mewakili jumlah maksimum barang dan jasa yang di produksi dengan sumber daya ekonomi. Tabel 1A-1. Pasangan Keluaran Kemungkinan Makanan dan Mesin :
Kemungkinan Makanan Mesin
A 0 150
B 10 140
C 20 120
D 30 90
E 40 50
F 50 0
Tabel diatas dapat juga di sajikan sebagai grafik. Untuk membuat grafik mewakili masing-masing pasangan tabel dari data dengan satu titik pada bidang dua dimensional. Gambar 1A-1 menmpilkan grafik hubungan antara makanan dan mesin output ditampilkan dalam tabel 1A-1. Setiap sepasang angka diwakili oleh satu titik dalam grafik. Jadi baris berlabel A di tabel 1A-1 digambarkan sebagai sesosok 1A-1 dan juga untuk poin B, C dst. Garis horizontal pada grafik disebut sumbu horizontal (sumbu x).
Gambar 1A-1 Kemungkinan Enam Pasangan Makanan-Mesin Tingkat Produksi
Angka ini menunjukkan data dari tabel 1A-1 dalam bentuk grafik.
Kurva halus
Dalam hubungan ekonomi yang variabel dapat perubahan dengan jumlah kecil serta peningkatan besar ditunjukkan pada gambar 1A-1. gambar 1A-2 menunjukkan PPF sebagai kurva halus dimana titik-titik dari A ke F telah terhubung.
Slopes dan Garis
Gambar 1A-2 menggambarkan hubungan antara makanan maksimum dan produksi mesin. Menggambarkan hubungan antara variabel adalah dengan kemiringan garis grafik. Kemiringan garis grafik mewakili perubahan dalam satu variabel yang terjadi ketika variabel lain berubah. Perubahan dalam variabel Y pada sumbu vertikal per unit , perubahan X variabel pada sumbu horosontal. Contoh : gambar 1A-2 mengatakan bahwa produksi pangan naik 25-26 unit. Kemiringan kurva pada gambar 1A-2 mengatakan perubahan yang tepat dalam produksi mesin yang berlangsung. Lereng adalah ukuran numeric yang tepat dari hubungan antara perubahan dalam Y dan X.
Kita dapat menggunakan gambar 1A-3 untuk menunjukkan kemiringan garis antara B dan D. gerakan pertama horizontal dari B ke C menunjukkan kenaikan 1unit pada nilai X ( dengan tidak ada perubahan di Y). Kedua gerakan vertikal ke atas ditampilkan sebagai s. Gerakan dua langkah membawa kita dari satu titik ke titik lain pada garis lurus. Karena gerakan BC adalah peningkatan 1 unit di X, panjang dari CD menunjukkan perubahan Y per unit perubahan X disebut juga kemiringan garis ABCF.
Seringkali lereng didefinisikan sabagai “naik selama menjalankan”. Meningkat adalah jarak vertikal. Pada gambar 1A-3, kenaikan jarak dari C ke D. menjalankan adalah jarak horizontal, itu adalah SM pada gambar 1A-3. kenaikan dalam jangka dalam hal ini akan CD melalui SM. Jadi kemiringan BD adalah CD/SM.
Point-poin kunci memahami tentang slopes adalah :
1. Kemiringan dapat dinyatakan sebagai sebuah nomor.
2. Jika garis lurus , slopes adalah konstan dimana-mana.
3. Slopes garis menunjukkan hubungan antara X dan Y adalah langsung.
Hubungan langsung terjadi antara variabel bergerak dalam arah yang sama. Hubungan terbalik terjadi ketika variabel bergerak dalam arah berlawanan.
Pada gambar A1-3 kemiringan negatif menunjukkan hubungan XY adalah langsung karena peningkatan X untuk penurunan Y.
Garis Melengkung
disebut stepsness dan tidak sama dengan slopes. Meskipun menampilkan hubungan yang sama , keduanya memiliki kemiringan setengah tapi sumbu x telah membentang di (b). panel (a) dan (b) sama tapi dalam (b) skala horizontal telah membentang keluar dibandingkan (a).
Garis melengkung atau nonlinear adalah salah satu kemiringan yang berubah. Pada gambar 1A-5 pada titik B adalah positif. Untuk mencari kemiringan garis melengkung halus pada suatu titik, harus menghitung kemiringan garis lurus yang hanya menyentuh pada titik tersebut. Kemiringan garis melengkung di sebuah titik yang diberikan oleh kemiringan garis lurus yang bersinggungan dengan kurva di titik yang diberikan. Jadi FBMJ garis singgung pada kurva mulus ABDE pada titik B, kemiringan B dihitung sebagai kemiringan garis tangent NJ/MN.
Pada gambar 1A-6 menunjukkan khas kurva ekonomi mikro yang berbentuk kubah dan memiliki maksimum pada titik C. Dapat menggunakan metode dari lereng sebagai bersinggungan dengan melihat bahwa kemiringan kurva selalu positif (dari A ke C) lihat titik B, didaerah kurva meningkat dan negatif di daerah jatuh (dari C ke E) lihat titik D. Pada maksimum kurva, sebuah kemiringan nol pada titik C menandakan bahwa sebuah gerakan kecil dalam variabel X sekitar maksimum tidak berpengaruh pada nilai dari variabel Y.
Pergerakan dan Pergeseran Kurva
Perbedaan penting dalam ilmu ekonomi adalah bahwa antara pergeseran kurva, dan gerakan sepanjang kurva. Pada gambar 1A-7 pada titik D investasi yang tinggi ke E investasi rendah. ( masyarakat untuk memilih produksi 30 unit makanan dan 90 unit mesin, jika masyarakat memutuskan untuk mengkonsumsi lebih banyak makanan dengan PPF yang diberikan maka dapat bergerak ke titik E ) Dari pergeseran kurva seperti dari D dalam satu tahun awal untuk G dalam satu tahun kemudian.
Spesial Grafik
PPF adalah salah satu grafik yang paling penting dari ekonomi yang menggambarkan hubungan antara dua variabel ekonomi.
Time Series
Beberapa grafik menunjukkan bagaimana variabel practicular telah berubah dari waktu ke waktu. Misalnya pada grafik depan bagian teks ini. Grafik sebelah kiri menunjukkan serangkaian waktu dalam sejak revolusi Amerika, dari variabel makroekonomi yang signifikan , rasio utang government federal produk domestic bruto atau PDB. Waktu grafik seri memiliki waktu pada sumbu horizontal dan variabel kepentingan pada sumbu vertikal. Grafik ini menunjukkan bahwa rasio utang PDB meningkat tajam selama setiap perang besar.
Diagram Pencar
Diagram pencar dari makroekonomi adalah fungsi konsumsi. Pada gambar 1A-8 menunjukkan total pendapatan pada sumbu horizontal dan konsumsi total pada sumbu vertikal. Konsumsi sangat erat terkait dengan pendapatan, satu petunjuk penting untuk perubahan dalam pendapatan nasional dan pengeluaran. Pada gambar 1A-8 menunjukkan hukum ekonomi makro penting. Belanja konsumsi jatuh di dekat garis CC yang menampilkan perilaku rata-rata dari waktu ke waktu. Untuk tahun 1990 dekat garis CC cukup kuat di prediksi dari baris sebelum tahun berakhir.
Diagram multicurve
Yaitu diagram yang lebih dari satu kurva yang berguna untuk menempatkan dua kurva dalam grafik yang sama. Contohnya diagram pasokan dan permintaan, pada bab 3 hal 52. dua hubungan grafik tersebut dapat menentukan harga dan kuantitas yang akan memegang dipasar.
sejarah mikro dan makro ekonomi
MIKROEKONOMI dan MAKROEKONOMI
Adam smith sebagai pendiri bidang mikroekonomi, cabang ekonomi yang saat ini berkaitan dengan perilaku entitas individual seperti pasar , perusahaan dan rumah tangga. Makroekonomi berkaitan dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan. Mikroekonomi dan makroekonomi menyatu untuk membentuk ilmu ekonomi modern.
LOGIKA EKONOMI
Kehidupan ekonomi adalah sarang sangat rumit aktivitas, dengan membeli orang, menjual, tawar menawar, investasi, membujuk dan mengancam. Pendekatan teoritis memungkinkan ekonom untuk membuat generalisasi yang luas, seperti kita yang menyangkut keuntungan dari perdagangan internasional dan spesialisasi atau kerugian dari tariff dan kuato. Pendekatan terakhir adalah penggunaan analisis statistik. Teknik khusus yang dikenal sebagai ekonometri. Contohnya : orang berdebat tentang dampak upah minimum yang lebih tinggi. Ekonom menyimpulkan bahwa kemungkinan besar meningkatkan upah minimum akan mengurangi tenaga kerja dan upah. Berikut kesalahan-kesalahan yang dihadapi dalam pemikiran ekonomi:
• Kesalahan post hoc
Melibatkan inferensi kausalitas. Kesalahan terjadi ketika kita berasumsi bahwa karena satu peristiwa terjadi peristiwa lain. Contohnya : depresi besar di Amerika Serikat tahun 1930 menyimpulkan bahwa obat untuk depresi adalah meningkatkan upah dan harga yang menyebabkan sejumlah undang-undang dan peraturan menopang upah, harga Yng tidak efisien.
• Kegagalan untuk menhan hal-hal yang konstan.
Contoh : dengan menaikkan tarif pajak akan meningkatkan atau menurunkan tarif pajak atau tidak? Mereka berpendapat bahwa tarif pajak pemotongan pada saat yang sama akan meningkatkan pendapatan pemerintah dan menurunkan defisit anggaran. Mereka berpendapat tariff pajak yang rendah menghasilkan pendapatan yang tinggi. Argument ini mengabaikan kenyataan bahwa ekonomi masyarakat dan pendapatan pemerintah tumbuh selama periode 1964-1965.
Dampak variabel pada sistem ekonomi :
• Kesalahan komposisi
Contoh :
1) Jika satu petani panen maka memiliki pendapatan tinggi, jika semua petani panen maka pendapatan petani akan jatuh.
2) Jika satu orang menerima uang maka dia akan lebih baik, jika semua orang menerima uang maka masyarakat akan cenderung lebih baik.
eksternalitas produsen
A. Eksternalitas Produsen
Dari penjelasan diatas telah diuraikan bahwa eksternalitas merupakan suatu efek samping yang harus diterima oleh suatu pelaku ekonomi karena kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh pelaku ekonomi yang lain dengan tanpa adanya kompensasi. Pelaku ekonomi tersebut dapat berupa produsen ataupun konsumen. Eksternalitas yang disebabkan karena tindakan ekonomi suatu produsen itulah yang disebut dengan eksternalitas produsen. Saat produsen melakukan kegiatan ekonomi dan menimbulkan efek samping terhadap pihak lain dengan tidak memberikan kompensasi apapun, maka telah terjadi eksternalitas produsen.
B. Dampak Eksternalitas Produsen
Ditinjau dari dampaknya, eksternalitas dapat dibagi menjadi dua, yaitu eksternalitas positif dan eksternalitas negatif. Eksternalitas positif adalah dampak yang menguntungkan dari suatu tindakan yang dilakukan oleh suatu produsen terhadap pihak lain tanpa adanya kompensasi dari pihak lain yang diuntungkan, sedangkan eksternalitas negatif adalah dampak yang merugikan dari suau tindakan ekonomi yang dilakukan oleh produsen terhadap pihak lain tanpa adanya kompensasi dari pihak yang merugikan dalam hal ini adalah produsen.
Dalam hal adanya eksternalitas dalam suatu aktivitas, maka akan timbul inrfisiensi. Inefisiensi akan timbul apabla tindakan seseorang mempengaruhi orang lain dan tidak terhitung dalam sistem harga. Misalnya seorang pengusaha pemilik pabrik yang membuang limbah ke sungai dan menyebabkan masyarakat pengguna air sungai tersebut menjadi sakit. Dalam menentukan harga barang hasil produksinya pengusaha tersebut hanya memperhitungkan analisa rugi-laba perusahaan tanpa memperhatikan pengaruh dampak negatifnya terhadap masyarakat. Sehingga bagi seluruh masyarakat tidak tercapai efisiensi yang optimum.
Secara umum adanya eksternalitas tidak akan menganggu tercapainya efisiensimasyarakat apabila semua dampak yang merugikan maupun yang menguntungkan dimasukkan dalam perhitungsn produsen dalam menetapkan jumlah barang yang diproduksikan. Dalam hal ini efisiensi akan tercapai apabila :
MSC = PMC + MEC
MSB = MPB + MEB
Dimana :
MEC : marginal external cost
PMC : marginal private cost
MEB : marginal external benefit
MPB : marginal private benefit
MSC : marginal social cost
MSB : marginal social benefit
Eksernalitas produksi negatif
Efisiensi ekonomi akan tercapai apabila MSC = MSB, padahal dalam kenyataannya seorang pengusaha tidak pernah memperhitungkan MEC dan MEB dalam menentukan harga dan jumlah barang yang dihasilkannya sehingga dapat dituliskan bahwa PMC = MPB(MEC & MEB = 0). Apabila dalam melakukan kegiatan produksi timbul suatu eksternalitas negatif, akan menjadi PMC MSB, sehingga produksi haruslah dikurangi agar efisiensi produksi ditinjau dari masyarakat mencapai optimum.
Rp
MSC=PMC+MEC
e
H1
PMC
H d
MEC
MSB
O
Q1 Q2 jumlah produksi
Diagram kurva diatas menunjukkan manfaat masyarakat(MSB) atas produksi. Tingkat output yang optimum terjadi pada tingkat produksi sebesar OQ1. Seorang pengusaha akan cenderung menetapkan tingkat produksi sebesar OQ2, yaitu dimana kurva permintaan (MSB) memotong kurva PMC, sehingga tampak bahwa jumlah yang diproduksi terlalu banyak dibandingkan tingkat produksi yang optimum.
Eksternalitas produksi positif
Dalam kasus eksternalitas positif pengusaha tidak akan memeperhitungkan eksternalitas positif yang diakibatkan oleh usahanya terhadap pihak lain atau MEB (MEB=0) sehingga akan menyebabkan kecenderungan tingkat produksi yang terlalu rendah dilihat dari efisiensi seluruh masyarakat. Ini disebabkan karena pengusaha menentukan tingkat produksi pada PMC=MPB sedangkan bagi masyarakat,tingkat produksi yang efisien akan terjadi di mana MSB=MPB+MEB=MSC=PMC+MEC. Dengan asumsi MEC=0,maka akan terlihat MSB>MPB sedangkan MSC=PMC. Selama MSB>MSC produksi seharusnya ditingkatkan sampai MSB=MSC.
Harga PMC
MSC
H1
H0
MPB
Q0 Q1
Diagram kurva diatas menunjukkan kasus eksternalitas positif. Pengusaha akan menentukan jumlah produksi pada OQ0 karena MPB=PMC. Adanya eksternalitas produksi yang positif menyebabkan kurva MSC dibawah kurva PMC(MSC
Thursday, 22 November 2012
ARTIKEL TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)
ARTIKEL Total quality management (TQM)
(tahun 1960) setelah era 1960-an, jepang dan negara – negara eropa serta amerika serikat menyadari bahwa masalah kualitas tidak mungkin cukup dikelola hanya oleh sekelompok kecil para profesional dibidang kualitas dalam kepentingan sebuah industri atau organisasi kerja. Akan tetapi, masalah kualitas adalah tanggung jawab seluruh fungsi organisasi kerja yang terlibat di dalamnya, baik dari tingkat manajemen sampai dengan pelaksana. Oleh karena pandangan tersebut, muncullah sebuah pendekatan konsep manajemen yang berorientasi pada kualitas yang dikenal dengan “Tota Quality Management (TQM)”. Pada dasarnya, TQM adalah sebuah konsep manajemen strategi pencapaian sukses jangka panjang yang berorientasi pada kepuasan konsumen dengan dukungan dan partisipasi dari seluruh anggota organisasi kerja internal maupun eksternal, peningkatan proses, kinerja produk, kinerja pelayanan, dan faktor – faktor kultural. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh w. Edwards Deming, Kaoru Ishikawa, Josep M. Juran, dan beberapa tokoh dibidang kualitas lainnya. (strategi six sigma oleh anang hidayat)
TQM adalah pendekatan manajemen pada suatu organisasi, berfokus pada kualitas dan didasarkan atas partisipasi dari keseluruhan sumber daya manusia dan ditujukan pada kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan dan memberikan manfaat pada anggota
organisasi (sumber daya manusianya) dan masyarakat TQM juga diterjemahkan sebagai pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap proses, produk, dan pelayanan suatu organisasi. Proses TQM memiliki input yang spesifik (keinginan, kebutuhan, dan harapan pelanggan), mentransformasi (memproses) input dalam organisasi untuk memproduksi barang atau jasa yang pada gilirannya memberikan kepuasan kepada pelanggan (output).
Tujuan utama Total Quality Management adalah perbaikan mutu pelayanan secara terus-menerus. Dengan demikian, juga Quality Management sendiri yang harus dilaksanakan secara terus-menerus. Sejak tahun 1950-an pola pikir mengenai mutu terpadu atau TQM sudah muncul di daratan Amerika dan Jepang dan akhirnya Koji Kobayashi, salah satu CEO of NEC, diklaim sebagai orang pertama yang mempopulerkan TQM, yang dia lakukan pada saat memberikan pidato pada pemberian penghargaan Deming prize di tahun 1974 (Deming prize, established in December 1950 in honor of W. Edwards Deming, was originally designed to reward Japanese companies for major advances in quality improvement. Over the years it has grown, under the guidance of Japanese Union of Scientists and Engineers (JUSE) to where it is now also available to non-Japanese companies, albeit usually operating in Japan, and also to individuals recognised as having made major
contributions to the advancement of quality.)
Banyak perusahaan Jepang yang memperoleh sukses global karena memasarkan produk yang sangat bermutu. Perusahaan/organisasi yang ingin mengikuti perlombaan/ bersaing untuk meraih laba/manfaat tidak ada jalan lain kecuali harus menerapkan Total Quality Management. Philip Kolter (1994) mengatakan “Quality is our best assurance of custemer allegiance, our strongest defence against foreign competition and the only path to sustair growth and earnings”.
Peningkatan produktivitas bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan antara lain meningkatkan efisiensi di bidang input atau meningkatkan hasil per satuan unit input yang digunakan dalam proses itu. Efisiensi input bisa dilakukan dengan menekan biaya produksi terutama biaya tenaga kerja. Namun pendekatan ini diragukan keberhasilannya karena hal itu akan berarti menurunkan standar hidup buruh, oleh karenanya jika pendekatan ini dilakukan malah akan menyebabkan kontra produktif. Pengalaman di Jepang untuk meningkatkan produktivitas ini adalah dengan mengintroduksi penggunaan robot terutama bagi pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang, berbahaya dan pekerjaan yang kurang disenangi. Namun cara itu bagi Amerika Utara dianggap akan menyebabkan kehilangan pekerjaan. Munculnya berbagai persoalan tersebut pada akhirnya membawa solusi dengan memberikan perhatian pada faktor manusia. Bagaimana mengarahkan karyawan sedemikian rupa sehingga dapat mencapai kepuasan yang lebih besar, memperoleh motivasi yang lebih tinggi dan dengan demikian menjadi lebih produktif? Kuncinya terletak dalam partisipasi karyawan pada semua tingkatan dalam organisasi dalam proses pengambilan keputusan. Sehingga muncull konsep “Gugus Kendali Mutu” (GKM) atau disebut juga Quality Control Circle (QCC). Sejalan dengan arus globalisasi, istilah GKM atau QCC semakin sering digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam upaya menuju Total Quality Management (TQM) atau manajemen kualitas terpadu. Suatu sistem manajemen kualitas merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manjemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Istilah Manajemen Mutu/Kualitas dewasa ini lazim dan merupakan metoda yang biasa digunakan oleh manajer untuk memberikan bukti pengendalian yang diperlukan untuk memuaskan pelanggan dan kebutuhan pemegang saham.
TQM hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik sebagai berikut:
1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
2. Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas.
3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
4. Memiliki komitmen jangka panjang.
5. Membutuhkan kerjasama tim (teamwork).
6. Memperbaiki proses secara berkesinambungan.
7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
8. Memberikan kebebasan yang terkendali.
9. Memiliki kesatuan tujuan.
10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan (Tjiptono & Diana 2001:5).
Prinsip-prinsip yang mempedomani TQM mencakup:
1) promosi lingkungan yang berfokus pada mutu,
2) pengenalan kepuasan pelanggan sebagai indikator kunci pelayanan bermutu dan
3) perubahan sistem, perilaku dan proses dalam rangka menjalankan perbaikan selangkah demi selangkah dan terus menerus terhadap barang dan pelayanan yang disediakan oleh sebuah organisasi (deliveri.com).
Lingkungan yang berfokus pada mutu adalah sebuah organisasi dimana pengadaan pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keperluan pelanggan dan dengan biaya terjangkau menjadi konsensus di kalangan anggota organisasi tersebut. Inti pendekatan semacam ini adalah tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan, yang dengan sendirinya menunjukkan efektifitas pelayanan. Kunci untuk mengatasi tantangan tersebut di atas adalah mempromosikan perubahan pada sistem manajemen dan perilaku organisasi penyedia pelayanan. Hal ini mencakup membangun komitmen untuk perubahan, mempromosikan partisipasi semua pihak terkait dan memberdayakan tim kerja. Komitmen untuk merubah pendekatan organisasi dalam hal pengadaan pelayanan bermula dari tingkat manajer senior, tetapi perubahan itu sendiri dimanifestasikan oleh seluruh staf pada semua lapisan.
Agar TQM berhasil, maka baik klien maupun tim kerja harus menjadi mitra aktif dalam pengambangan pelayanan. Secara khusus, agar pelanggan puas maka staf harus memiliki keahlian yang dibutuhkan dan rasa memiliki terhadap pelayanan. Pegawai pada semua tingkatan harus bisa melatih keleluasaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik di dalam maupun di luar organisasi. Di Indonesia, cakupan pengambilan keputusan pegawai negeri masih relatif kecil, karena mereka harus menunggu izin dari atasan mereka. Untuk berpindah dari lingkungan yang struktural dan hierarkis menuju ke pemberdayaan pegawai, perlu perubahan perilaku, ilmu dan pengetahuan baru yang cukup subtansial. Perubahan-perubahan struktural utama yang diperlukan untuk mendukung proses ini mencakup pengenalan dan penghargaan terhadap kreatifitas serta inovasi, pengenalan perbaikan yang progresif dan berlanjut serta mengadakan pelatihan untuk para staf secara terus menerus.
Urgensi pengadaan pelatihan dan pendidikan secara berkesinambungan tidak bisa dipandang remeh. Untuk mencipatakan tim kerja yang terberdayakan, maka semua orang dalam lingkungan TQM perlu mendapatkan kemampuan tambahan untuk mengembangkan proses dan kinerja. Pelatihan keahlian kerja yang spesifik harus disediakan dan diperbaharui terus menerus untuk merefleksikan proses yang telah berkembang.
Biasanya, tangapan awal terhadap TQM cukup positif, namun kerap hanya dalam bentuk dukungan verbal semata. Masalah mulai muncul ketika diperlukan dukungan aktif dari para manajer senior untuk menciptakan atmosfer yang kondusif, dimana staf bisa bereksperimen
dan mempelajari pendekatan baru tanpa takut disalahkan, atau ketika terjadi tekanan untuk melaksanakan "proyek pesanan" (top-down). Keadaan ini bisa menyempitkan ruang lingkup TQM dan membuatnya tidak bisa berjalan dalam jangka panjang. Dalam studi banding program TQM pada kantor-kantor Dinas diketahui bahwa tipe kepemimpinan sangat instrumental dalam menanggulangi masalah tersebut. Jika manajemen senior hanya memberikan dukungan verbal, maka staf akan merespon prinsip-prinsip TQM hanya di mulut saja. Sebaliknya, jika manajemen senior berpartispasi aktif dalam proses, maka akan terjadi perubahan kualitatif mengenai kinerja para staf (deliveri.com).
IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT
A. PERUBAHAN LINGKUNGAN
Dalam era globalisasi dan liberalisasi perdagangan, terjadi berbagai perubahan dalam hampir semua aspek, misalnya dalam aspek ekonomi, politik, sosial budaya, teknologi, hukum, hankam, dan aspek lainnya. Berbagai tren baru dalam lingkungan manufaktur membawa dampak terhadap kualitas.
Lingkungan Manufaktur Baru
TREN IMPLIKASI TERHADAP MUTU
1. Fokus pada strategi manufaktur Mutu menjadi dasar strategi kekuatan bersaing
2. Produksi barang bermutu tinggi Mutu secara langsung berhubungan dengan pangsa pasar, pertumbuhan bisnis dan laba
3. Pengurangan tingkat persediaan dengan konsep just in time Pengurangan biaya persediaan
4. Skedul produksi yang ketat Peningkatan ketersediaan oleh pelanggan dipersepsikan sebagai aspek mutu
5. Bauran dan variasi produk Memungkinkan focus pada strategi dan segmentasi pasar
6. Otomatisasi mesin & peralatan Memberikan justifikasi bagi peningkatan mutu dan produktivitas
7. Daur hidup lebih singkat Memberikan peluang bagi usaha mempercepat perubahan pasar dan memasukkan teknologi baru ke dalam produk melalui program manajemen mutu
8. Perubahan organisasi Tanggung jawab mutu didelegasikan kepada unit bisnis strategik dan manajer produk
9. Teknologi informasi Memungkinkan pengendalian lebih ketat terhadap biaya mutu, manajemen mutu dan integrasi fungsional silang.
Kelangsungan hidup perusahaan sangat tergantung pada kemampuan untuk memberi respons terhadap perubahan-perubahan tersebut secara efektif. Umumnya perubahan yang terjadi disebabkan oleh berbagai kekuatan yang ada, baik internal maupun eksternal.
Ada empat kekuatan eksternal utama, yaitu karakteristik demografi, kemajuan teknologi, perubahan pasar, dan tekanan sosial serta politik.
Kekuatan internal bisa dipengaruhi oleh masalah sumber daya manusia dan perilaku atau keputusan manajerial.
1. Permasalahan sumber daya manusia
Munculnya masalah ini berkaitan dengan persepsi karyawan atas perlakuan terhadap mereka dalam pekerjaan dan kesesuaian antara kebutuhan dan keinginan individual dan organisasional.
2. Perilaku/keputusan manajerial
Konflik interpersonal, perilaku pemimpin yang tidak sesuai, sistem penghargaan yang tidak memadai serta adanya reorganisasi structural merupakan factor-faktor pendorong perlunya perubahan yang berkaitan dengan perilaku/keputusan manajerial.
Total quality management merupakan suatu konsep manajemen m,odern yang berusaha untuk merespons secara tepat terhadap setiap perubahan yang ada, baik yang didorong oleh kekuatan eksternal maupun internal. TQM lebih berfokus pada tujuan perusahaan untuk melayani kebutuhan pelanggan dengan memasok barang dan jasa yang memiliki kualitas setinggi mungkin.
Kehadiran TQM sebagai paradigma baru menurut komitmen jangka panjang dan perubahan total atas paradigma manajemen tradisional. Perlunya perubahan total dikarenakan cara menjalankan bisnis dengan TQM berbeda sekali dengan cara tradisional. Perbedaan pokok adalah berupa karakteristik yang tercakup dalam unsur-unsur TQM, yang meliputi:
• • Fokus pada pelanggan eksternal dan internal
• • Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas
• • Pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
• • Adanya komitmen jangka panjang
• • Kerja sama tim
• • Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan
• • Perbaikan proses secara berkesinambungan
• • Adanya pendidikan dan pelatihan karyawan yang bersifat bottom-up
• • Adanya kebebasan yang terkendali
• • Adanya kesatuan tujuan
Munculnya TQM juga dikarenakan adanya kekurangan atau kesalahan dalam menjalankan bisnis dengan mengunakan pendekatan tradisional. Beberapa kekurangan atau kesalahan tersebut (Fandy, 1995:329), antara lain sebagai berikut:
1. Berfokus pada jangka pendek
2. Cenderung bersifat arogan, tidak berfokus pada pelanggan
3. Memandang rendah kontribusi potensial karyawan
4. Menganggap bahwa mutu yang lebih baik hanya dapat dicapai dengan biaya yang tinggi
5. Mengutamakan bossmanship bukan leadership
B. PERSYARATAN IMPLEMENTASI TQM
Untuk melakukan suatu perubahan sering kali tidak mudah, apalagi bila menyangkut perubahan yang bersifat fundamental dan menyeluruh. Berkaitan dengan perubahan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu berikut ini:
1. Perubahan sulit berhasil bila manajemen puncak tidak menginformasikan proses perubahan secara terus-menerus kepada para karyawannya.
2. Persepsi karyawan terhadap perubahan sangat mempengaruhi penolakan perubahan. Karyawan akan mendukung perubahan bila mereka merasa bahwa manfaat perubahan akan lebih besar daripada biaya yang ditimbulkan terutama biaya karyawan.
Ada beberapa persyaratan untuk melaksanakan TQM (Goetsch, 1997:264) (Fandy, 1995:332) yaitu :
1. Komitmen manajemen puncak
2. Komitmen atas sumber daya yang dibutuhkan
3. Organization wide steering committee
4. Perencanaan dan publikasi
5. Infrastruktur yang mendukung penyebarluasan dan perbaikan terus menerus
Keseluruhan persyaratan diatas merupakan tugas awal yang harus dilakukan dalam memulai implementasi TQM. Selain tugas-tugas tersebut, masih ada beberapa tugas lainnya yang harus dilakukan, yaitu sbb:
1. Melatih steering committee, yang meliputi hal-hal seperti empat belas poin deming, deming’s seven deadly diseases, tujuh alat/piranti utama perbaikan, dan pembentukan tim kerja.
2. Identifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi, yaitu mengenai kemampuan statistic, pengumpulan data, dan kemampuan analisis.
3. Identifikasi pendukung potensial TQM, yaitu dengan bagian apa yang paling mungkin menjadi pendukung TQM dan siapa yang menolak TQM.
4. Identifikasi pelanggan eksternal dan internal
5. Menyusun cara untuk menentukan kepuasan pelanggan (eksternal dan internal), antara lain dengan melakukan patok duga pada perusahaan pesaing terkuat untuk mengukur perbaikan/kemajuan yang dicapai.
C. PERANAN MANAJEMEN DALAM IMPLEMENTASI TQM
TQM merupakan transformasi budaya yang didorong oleh definisi ulang (reengineering) terhadap peranan manajemen. Pihak manajemen harus mebubah dirinya terlebih dahulu, baik aspek nilai, keyakinan, asumsi, maupun cara mereka menjalankan bisnis. Peranan merupakan tanggung jawab, perilaku, atau prestasi kinerja yang diharapkan dari seseorang yang memiliki posisi khusus (Bounds, et al, 1994:1334). Selain melaksanakan kepemimpinan yang diharapkan dapat memotivasi dan mengarahkan para karyawan untuk mencapai tujuan organisasi, manajemen puncak juga bertanggung jawab dalam mengatasi setiap penolakan terhadap perubahan ke arah manajemen baru. Dalam mengatasi penolakan terhadap perubahan tersebut, manajer puncak dapat menggunakan salah satu strategi berikut (Kreitner dan Kinicki, 1994:737).
1. Pendidikan dan Komunikasi
2. Partisipasi dan Keterlibatan
3. Fasilitas dan Dukungan
4. Negosiasi dan Kesepakatan
5. Manipulasi dan Cooptation
6. Paksana Secara Eksplisit dan Implisit
Hasil analisis yang dilakukan Benson (et al., 1991) (dalam Hessel, 2003:81) persepsi manajer mengenai manajemen kualitas ideal dan actual dengan instrument tentang delapan area kritikal manajemen kualitas, yaitu peran kepemimpinan, kebijakan kualitas, training product service design, manajemen kualitas pemasok, data kualitas dam pelaporan serta hubungan karyawan. Alat analisis digunakan adalah regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa organizational quality context ternyata mempengaruhi persepsi manajemen kualitas actual maupun ideal.
D. PENDEKATAN IMPLEMENTASI YANG HARUS DIHINDARI
Agar implementasi TQM dapat berjalan dengan sukses, perusahaan harus mempelajari semua informasi yang ada, baik mengenai implementasi yang sukses maupun yang gagal di perusahaan lain. Ada beberapa pendekatan implementasi TQM yang harus dihindari (Fandy, 1995:341), yaitu sbb:
o Jangan melatih semua karyawan sekaligus
o Jangan tergesa-gesa menerapkan TQM dengan melibatkan terlalu banyak orang dalam satu tim
o Implementasi TQM tidak boleh didelegasikan
o Jangan memulai implementasi bila manajemen belum benar-benar siap
E. FASE-FASE IMPLEMENTASI
Menurut Cortado (1993:179-182), ada lima tahap transformasi yang dilalui suatu perusahaan, yaitu tahap kesadaran awal, implementasi sebagian, aktivitas estensif, hasil-hasil nyata dan terbaik dalam industri dengan karakteristik setiap tahap.
Karakteristik Lima Tahap Transformasi dalam Implementasi TQM
Penerapan Awal Implementasi Sebagian Aktivitas Intensif Hasil Nyata Terbail dalam Industri
Baru ada sebagian pengetahuan TQM Pengetahuan makin berkembang Setiap orang telah memahami konsep TQM Integrasi sangat baik Integrasi total
Sedikit pendukung TQM Usaha sistimatis dimulai Pendekatan telah terpadu Proses teruji dan efektif Praktik yang terbaik
Tidak ada rencana Ada rencana implementasi Mulai memperoleh hasil-hasil nyata TQM menjadi budaya perusahaan Melaksanakan budaya mutu
Tidak ada budaya kualitas Mulai ada kesuksesan Budaya perusahaan telah berubah Hasil-hasil telah tercapai dan kontinu Hasil-hasil unggul dan kontinu
Belum ada hasil nyata Budaya perusahaan mengalami perubahan Empowerment and development bersifat ekstensif Terorganisasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi Meraih kelas dunia
Manajemen komando & kendali Manajemen senior mulai memberi dukungan Berfokus pada perbaikan kontinu Berhasil menjadi pemimpin pasar Penyempurnaan secara kontinu
Inward focused Delegasi dimulai Fokus pada pelanggan makin baik
Waktu 1 – 2 tahun 1 – 2 tahun 1 – 2 tahun Kontinu
Sumber: Cortado, J.W. (1993:180)
Menurut George dan Weimerskirch (1994:259-269), ada enam fase utama dalam implementasi TQM, yaitu sbb:
1. Komitmen manajemen puncak terhadap perubahan
2. Penilaian system perusahaan secara internal dan eksternal
3. Pelembagaan focus pada pelanggan
4. Pelembagaan TQM dalam perencanaan strategic, keterlibatan karyawan, manajemen proses, dan system pengukuran
5. Penyesuaian dan perluasan tujuan manajemen guna memenuhi dan melampaui harapan pelanggan
6. Perbaikan atau penyempurnaan system
Sementara itu, Goetsch dan Davis (1997:584-589) memberikan klasifikasi fase implementasi yang lebih rinci dan sistematis. Fase implementasi TQM dikelompokkan menjadi tiga fase yaitu :
1. Fase Persiapan
Langkah A: Membentuk Total Quality Steering Committee
Langkah B: Membentuk Tim
Langkah C: Pelatihan TQM
Langkah D: Menyusun Pernyataan Visi dan Prinsip sebagai Pedoman
Langkah E: Menyusun tujuan umum
Langkah F: Komunikasi dan Publikasi
Langkah G: Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan
Langkah H: Identifikasi Pendukung dan Penolak
Langkah I: Memperkirakan Sikap Karyawan
Langkah J: Mengukur Kepuasan Pelanggan
2. Fase Perencanaan
Langkah K: Merencanakan pendekatan Impelementasi, kemudian menggunakan siklus PDCA (Plan, Do, Check and Adjust)
Langkah L: Identifikasi Proyek
Langkah M: komposisi Tim
Langkah N: Pelatihan Tim
3. Fase Pelaksanaan
Langkah P: Penggiatan Tim
Langkah Q: Umpan Balik kepada Steering Committee
Langkah R: Umpan Balik dari Pelanggan
Langkah S: Umpan Balik dari karyawan
Langkah T: Memodifikasi Infrastruktur
Keberhasilan implementasi TQM sangat dipengaruhi oleh fasilitas pendukungnya yaitu infrastruktur organisasi. Infrastruktur organisasi tersebut meliputi berikut ini:
• Hubungan jangka panjang dengan pelanggan
• Dukungan manajemen puncak
• Manajemen tenaga kerja
• Hubungan jangka panjang dengan pemasok.
• Sikap kerja pekerja
F. PENGARUH IMPLEMENTASI TQM PADA KINERJA ORGANISASI.
Pengaruh penerapan TQM pada kinerja organisasi (Hessel, 2003:84) meliputi atas berikut ini.
1. Proses desain produk.
2. Manajemen arus proses.
3. Statistical quality control.
4. Hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
5. Sikap kerja pekerja
6. Kinerja organisai pada keunggulan kompetitif.
G. HAMBATAN IMPLEMENTASI TQM DI INDONESIA.
Hasil analisis implementasi TQM di Indonesia menunjukkan ketidaksempurnaan implementasi TQM dan kurangnya infrastruktur yang mendukung implementasi TQM. Secara umum, terdapat beberapa factor penyebab yang memungkinkan keadaan tersebut (Hessel, 2003:98) yaitu sbb:
Kurangnya komitmen manajemen puncak.
Kurangnya dukungan infrastruktur untuk implementtasi TQM.
Partial quality management
Kurangnya pengetahuan tentang kkosep TQM yang akan mempersulit karyawan untuk menerima dan menerapkan kosep TQM.
Budaya organisasi kurang mendukung implementasi TQM, dimana belum sepenuhnya berfokus pada kepuasan pelanggan.
DAFTAR PUSTAKA
Simamora, B. (2003), Membongkar Kotak Hitam Konsumen, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Singarimbun, M. dan Effendi, S. (2004), Metode Penelitian Survei, LP3ES, Jakarta.
Tjiptono, Fandy. (2005), Total Quality Management, Andi Offset, Yogyakarta.
Hardjosoedarmo, Soewarso., Dasar Dasar Total Quality Management., Andi Yogyakarta.,
Yogyakarta1996.
Scherkenbach, Wiliam W., Deming’s Road to Improvement, SPC Press, Inc., Knoxville,
Tennessee, 1991.
Samani, Muchlas., Manajemen sekolah.,Depdikbud. Jakarta, 1999.
Kurniadi, Erick (1998). Pengertian TQM “total quality management” & GKM. 15
Maret 2009.
www. Yahoo.com
www.google.com
PENGERTIAN MANAJEMEN
Pengertian manajemen
a. Dalam bahasa Indonesia
Menurut Dr. Sp. Siabian
Manajemen adalah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain.
Philip Kotler (Marketing)
Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
Philip Kotler dan Amstrong
Pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
Pemasaran
adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.
Menurut W Stanton
Pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.
b. Dalam bahasa Inggris
Menurut David (1951)
Management is the function of the executive leadership anywhere (manajemen adalah fungsi dari setiap kepemimpinan eksekutif dimanapun.)
Subscribe to:
Posts (Atom)